Home » » Kenaikan Bensin: Perlu atau Tidak?

Kenaikan Bensin: Perlu atau Tidak?


http:wwberita8.com

Mengungkap satu lagi kebohongan Pemerintah

Awal April ini BBM naik lagi. Alasan yang dikeluarkan adalah untuk menyelamatkan APBN agar tidak jebol.

Alasan lainnya seperti yang diungkapkan WaPres Budiono:
"Banyaknya kebocoran saat pendistribusian BBM menyebabkan subsidi BBM menjadi tidak tepat sasaran. Untuk mengurangi kebocoran itu saat ini cara yang paling efektif adalah mengurangi insentif (subsidi) itu" (news.detik.com)

Benarkah?

Berikut adalah data yang saya dapatkan dari salah seorang anggota DPR di websitenya yang telah dikompilasinya dari berbagai sumber.

Indonesia menghasilkan 930.000 Barel/hari, 1 Barel = 159 liter
Harga Minyak Mentah = 105 USD per Barel
Biaya Lifting + Refining + Transporting (LRT) 10 USD per Barel
= (10/159) x Rp.9000 = Rp. 566 per Liter
Biaya LRT untuk 63 Milyar Liter
= 63 Milyar x Rp.566,- = Rp. 35,658 trilyun
Lifting = 930.000 barel per hari,
atau = 930.000 x 365 = 339,450 juta barel per tahun
Hak Indonesia adalah 70%, maka = 237,615 Juta Barel per tahun
Konsumsi BBM di Indonesia = 63 Milyar Liter per tahun,
atau dibagi dengan 159 = 396,226 juta barel per tahun
Pertamina memperoleh dari Konsumen :
= Rp 63 Milyar Liter x Rp.4500,-
= Rp. 283,5 Trilyun
Pertamina membeli dari Pemerintah
= 237,615 Juta barel @USD 105 x Rp. 9000,-
= Rp. 224,546 Trilyun
Kekurangan yang harus di IMPOR
= Konsumsi BBM di Indonesia – Pembelian Pertamina ke pemerintah = 158,611 Juta barel
= 158,611 juta barel @USD 105 x Rp. 9000,-
= Rp. 149,887 Trilyun

KESIMPULAN: ‎
Pertamina memperoleh hasil penjualan BBM premium sebanyak 63 Milyar liter dengan harga Rp.4500,- yang hasilnya Rp. 283,5 Trilyun.
Pertamina harus impor dari Pasar Internasional Rp. 149,887 Trilyun
Pertamina membeli dari Pemerintah Rp. 224,546 Trilyun
Pertamina mengeluarkan uang untuk LRT 63 Milyar Liter @Rp.566,-
= Rp. 35,658 Trilyun
Jumlah pengeluaran Pertamina Rp. 410,091 trilyun
Pertamina kekurangan uang, maka Pemerintah yang membayar kekurangan ini yang di Indonesia pembayaran kekurangan ini di sebut “SUBSIDI”
Kekurangan yang dibayar pemerintah (SUBSIDI) = Jumlah pengeluaran Pertamina dikurangi dengan hasil penjualan Pertamina BBM kebutuhan di Indonesia
= Rp. 410,091 trilyun – Rp. 283,5 Trilyun
= Rp. 126,591 trilyun
Tapi ingat, Pemerintah juga memperoleh hasil penjualan juga kepada Pertamina (karena Pertamina juga membeli dari pemerintah) sebesar Rp. 224,546 trilyun. Catatan Penting: hal inilah yang tidak pernah disampaikan oleh Pemerintah kepada masyarakat.
Maka kesimpulannya adalah pemerintah malah kelebihan uang, yaitu sebesar perolehan hasil penjualan ke pertamina – kekurangan yang dibayar Pemerintah (subsidi)
= Rp. 224,546 Trilyun – Rp. 126,591 Trilyun
= Rp. 97,955 Trilyun

Artinya, APBN tidak Jebol malah masih ada sisa sebesar Rp. 97,955 Trilyun. The Big question is... KEMANA UANG SISA TERSEBUT??? 

Saatnya kita berkata : 

"TIDAK, UNTUK KENAIKAN BBM"

Sumber:  http://news.detik.com
              http://www.riekediahpitaloka.com
Share this article :

4 komentar:

loveheaven07 said...

pinginnya mah gak naik,so good info :D

Obat Asam Urat said...

postingan yang bagus,,,

Advertising dan Huruf Timbul Semarang said...

UNTUK DI MAKAN RAME2 " TIKUS LIAR " AGAR SUSU MEREKA TAMBAH BANYAK........!!!!!!!!

Umar AFM said...

Penguasa....Penguasa..Berilah rakyatmu uang....

Semoga berkah dunia akhirat ya mereke2 itu...


Sekilah info - agenpertamini.biz.id

Post a Comment

KOMENTAR ANDA SANGAT BERARTI DI BLOG YANG SEPI

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Jurnal Warna Warni - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger